Selasa, 02 Juni 2009

Cara Jepang Kenalkan Sains kepada Orang Muda

LAYAR informasi milik Nagoya University yang dipasang di dekat pintu tiket stasiun Nagoyadaigaku sebulanan ini menampilkan tiga wajah Nobelist. Mereka adalah Prof Toshihide Masukawa dan Prof Makoto Kobayashi, peraih Nobel Fisika 2008 yang keduanya lulusan Fakultas Science, Nagoya University, masing-masing pada tahun 1962 dan 1972, dan seorang lagi peraih Nobel Kimia, yaitu Prof Osamu Shimomura, yang juga meraih gelar PhD-nya pada fakultas yang sama, bahkan sempat menjadi associate professor di almamaternya.

Nagoya University sejak lama dikenal sebagai pusat sains dan teknologi di wilayah Jepang Tengah. Pada tahun 2001, Prof Ryouji Noyori, peneliti di Nagoya University, juga meraih Nobel di bidang kimia. Beliau menghadiahkan sebagian besar hadiah yang diperolehnya untuk membangun gedung Noyori Conference Hall di Nagoya University, yang di dalamnya dilengkapi panel-panel untuk memahami seluk-beluk ilmu kimia, termasuk temuan Noyori, yaitu asymmetric molecular catalysis.

Koran Mainichi beberapa saat setelah pengumuman Nobel melaporkan kegembiraan warga Nagoya, dan wartawan mendatangi SMP dan SMA Prof Masukawa dan mewawancarai kepala sekolah beserta siswa-siswa. Para siswa menyatakan kekaguman mereka dan bertekad untuk menekuni sains. Keseharian para Nobelist dan hasil penemuan mereka disajikan di dalam artikel koran dan program TV yang menarik.

Kalau dicermati, minat para Nobelist terhadap sains muncul dalam fase yang berbeda. Prof Ryoji Noyori terinspirasi oleh ayahnya, seorang peneliti plastik dan fiber di sebuah perusahaan kimia. Rumah Noyori dipenuhi oleh jurnal-jurnal ilmiah, plastik, dan fiber yang menjadi bahan pekerjaan ayahnya. Saat ia berumur 12 tahun, ayahnya mengajaknya menghadiri sebuah seminar tentang nilon yang diselenggarakan oleh DuPont. Noyori kecil menjadi sangat terpukau dengan kimia yang berperan banyak dalam mengubah nasib manusia sejak saat itu. Pelajaran kimia yang diperolehnya di SMP dan SMA melalui class work (sanggyou, semacam praktik di industri) memesonanya.

Shimomura justru baru tertarik kepada sains saat menjadi mahasiswa. Ledakan bom di Nagasaki pada PD II menyebabkan penglihatannya terganggu sejak kecil, dan karena kondisi perang, Shimomura berangan-angan untuk menjadi desainer pesawat. Studinya di Nagoya University telah membawanya untuk berkenalan dengan Prof Yoshimasa Hirata (juga menjadi pembimbing Prof Noyori), yang menugasinya untuk meneliti protein pada umi-hotaru (Vargula hilgendorfii).

Kemajuan sains di Jepang tidaklah mengherankan jika kita melihat anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pengembangan sains dan teknologi sebesar 16,2 persen dari total anggaran. Terlepas dari penggunaan sebagian dana untuk membangun banyak museum sains yang dikritisi telah menghabiskan dana pendidikan, sementara keuntungannya tidak berarti bagi warga, anggaran sains dan teknologi di Jepang tergolong sangat tinggi.

Pembaharuan sains di tingkat pendidikan dasar dan menengah terjadi tatkala Prof Noyori menjadi anggota Komite Reformasi Pendidikan Jepang. Noyori memicu lahirnya kebijakan super science project, berupa pengayaan materi belajar sains dan penguatan kegiatan eksperimen di sekolah.

Mencetak Nobelist di Jepang bukanlah agenda reformasi pendidikan di Jepang, tetapi mendorong kecintaan kepada sains dan memfasilitasi ilmuwan-ilmuwan muda di universitas untuk menemukan hal-hal baru, adalah tujuan utama proyek sains di Jepang.

Pada level pendidikan dasar dan menengah, guru-guru sains adalah guru bersertifikat yang terjamin keilmuan, kompetensi, dan kecintaannya kepada pengembangan ilmu.
Tugas guru pun ditunjang dengan sarana praktikum dan literatur sains yang memadai.

Bahasa Inggris sebagai bahasa sains internasional sangat memberatkan orang Jepang, oleh karena itu diciptakan terminologi sains dan teknologi dalam bahasa Jepang dan penerjemahan literatur sains ke dalam bahasa Jepang berlangsung sangat intensif.

Senin, 01 Juni 2009

Keterkaitan dunia industri dan dunia pendidikan

Jika kita bicara soal kesempatan kerja, maka di negara kita jika ada satu pekerjaan maka diperkirakan ada seribu orang yang akan melamar. Dari seribu orang itu mungkin hanya sekitar seratus orang yang memenuhi persyaratan administrasi dan lulus test psikologi. Intinya begitu besar “gap” atau perbedaan antara “Supply and Demand” ,antara persyaratan kerja dengan mereka yang memenuhi kualifikasi persyaratan kerja tersebut.

Hasil dari dunia pendidikan berupa lulusan SMK atau Politeknik yang memang dipersiapkan untuk segera memasuki dunia kerja masih jauh dari harapan. Ada beberapa sekolah kejuruan atau politeknik yang lulusannya langsung dapat masuk kepasar kerja. Mereka mempunyai peralatan latihan kerja yang memadai, biasanya merupakan proyek percontohan atau bekerjasama dengan industri tertentu. Sekolah kejuruan dan politeknik yang berjalan tanpa menyediakan peralatan latihan kerja yang memadai, akan ketinggalan teknologi dan lulusannnya masih harus dibekali dengan ketrampilan untuk dapat memenuhi standard industri.

Pada negara lain yang sudah maju masih terdapat juga masalah “link and Match” antara keluaran dari pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Bedanya setiap tahun besarnya “gap” itu semakin diperkecil dengan selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikannya. Jepang saja sebagai negara industri yang sangat maju masih ada “mis-match” dalam penempatan tenaga kerjanya.Hal ini diatasi dengan memberikan kesempatan bagi pencari kerja angkatan muda untuk melaksanakan program magang. Dengan magang di industri atau di UKM (Usaha Kecil Menengah), dan mendapatkan uang saku yang memadai, maka ketrampilan bekerja seseorang menjadi meningkat.

Di Jerman untuk pendidikan Vokasi atau kejuruan, Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jerman memegang peranan sangat besar.Pemerintah memberikan kewenangan kepada KADIN Jerman untuk membuat kurikulum, menyediakan tempat magang, menyediakan para trainer atau pengajar dan juga assesornya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan materi ajar, penguji, pengajar dan evaluasi sekolah kejuruan ditangani oleh KADIN Jerman. Dual sistem atau sistem ganda pada sekolah kejuruan di Jerman, mengajarkan teori sekitar 20 % di sekolah dan 80 % nya adalah magang dengan bimbingan para supervisor di industri.Tidak heran lulusan SMK otomotif misalnya langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan otomotif. Biasanya mereka langsung diterima bekerja diperusahaan tempat mereka magang. Dengan magang langsung di industri, semua peralatan dan kebutuhan perusahaan selalu up to date, tidak ada perbedaan anatara alat peraga yang ada di sekolah dengan yang ada di industri, seperti yang kita alami.Saya melihat sendiri bagaimana anak magang mempelajari otomotif di pabrik Porsche, mobil canggih yang sangat mahal harganya. Paling murah harga mobil Porsche adalah US $ 650.000. Bandingkan dengan anak SMK Otomotif kita yang masih belajar dengan mesin mobil kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan tekhnologi.

Seharusnya pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangun kompetensi sumber daya manusianya. Misalnya di Bali yang terkenal dengan pariwisatanya, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan Kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture. Di Papua yang kaya emas dan juga kayunya, dibangun komptensi keahlian emas dan kayu. Dengan demikian terbentuk suatu keahlian yang khusus, unik dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infra struktur, misalnya gedung, sekolah dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu. Tanpa kompetensi. tanpa adanya “link and match” antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia.Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya. Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil.misalnya untuk mendidik tenaga kerja yang trampil dibidang otomotif, tidak perlu membangun sekolah otomotif sendiri, tapi serahkan dana tersebut misalnya kepada ASTRA group untuk mengembangkan lembaga pelatihan otomotifnya.Untuk mencetak tenaga ahli elektronik, berikan anggaran kepada Panasonic Gobel misalnya untuk memperkuat lembaga pelatihan elektronik yang selama ini hanya untuk melayani kebutuhan internal.

Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa. Bearapa banyak perjalanan studi banding dilakukan oleh para pejabat kita, tanya pada hati nurani apakah sudah saatnya menghentikan segala macam perjalanan studi banding yang menghabiskan anggaran dan belum terlihat tanda kapan akan diimplementasikan demi kemajuan bangsa kita tercinta

Hasil penerapan Life skill

Hasil penerapan dari pendidikan kecakapan hidup dibeberapa daerah telah menunjukkan manfaatnya, sebagaimana hasil penelitian tentang pelatihan vokasional pada pendidikan nonformal yang dilakukan di tiga provinsi yakni Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat. Menurut paparan Susanna Adam Ketua Tim Penelitian pelatihan vokasional pada pendidikan nonformal dengan studi yang dilakukan terhadap 1834 peserta kursus (719 peserta masih mengikuti kursus dan 1115 telah menyelesaikan kursus) dan 174 penyedia kursus, termasuk pemerintah dan swasta, sebanyak 84 persen peserta pelatihan menyatakan keinginannya untuk membuka usaha secara mandiri. Sementara dari hasil penelitian, sebelum diselenggarakan pelatihan sebanyak tujuh persen peserta telah melakukan usaha mandiri, dan usai mengikuti pelatihan sebanyak sembilan belas persen telah mampu melakukan usaha mandiri. (Keterampilan Vokasional Memacu Kreativitas, sumber: Pers Depdiknas Jakarta, Kamis (10 April 2008).

Hasil penerapan pendidikan kecakapan hidup atau Life skill, sebagaimana tersebut mungkin belum dapat dikatakan sukses sepenuhnya, meskipun demikian pendidikan kecakapan hidup tidak hanya memberikan harapan baru tapi bekal ketrampilan dan wadah mengasah potensi bagi peserta didiknya, sehingga kesuksesan dan kemandirian berusaha sebagai jawaban atas masalah yang ada dalam kehidupan benar-benar terjawab dengan adanya life skill.

Aspek Pengembangkan Pendidikan Kecakapan Hidup

Tidak berhenti sampai pada satu titik tertentu, dimana lulusan pendidikan kecakapan hidup atau Life skill harus terus mampu mengembangkan potensi, bersikap proaktif dan produktif dengan kreativitas yang tinggi, oleh karena itu pengembangan dalam pendidikan kecakapan hidup harus terus dilakukan, menginggat kecakapan hidup menjadi kunci keberhasilan kemandirian hidup dan memberi solusi untuk setiap persoalan yang ada didalam kehidupan.

Untuk itu pengembangan pendidik kecakapan hidup haruslah dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek pendidikan life skill, yang meliputi pada kecakapan diri, (personal skill) kecakapan sosial (social skill) kecakapan akademik (akademic skill) dan Kecakapan Bekerja

Kecakapan Diri merupakan kecakapan seseorang dalam memahami (kesadaran diri), mengatur dan memotivasi diri sendiri. Kecakapan Sosial atau kecakapan antar personal mencakup antara lain kecakapan berkomunikasi dengan empati dan kecakapan membina hubungan/ bekerjasama. Empati merupakan sikap penuh pengertian terhadap orang lain, sehingga berkesan baik dan dapat menumbuhkan hubungan yang harmonis. Kecakapan Akademik meliputi kecakapan membaca, menulis, berhitung dan kecakapan lain yang umumnya dipelajari disekolah. Kecakapan Bekerja adalah kecakapan yang berkaitan dengan keterampilan kerja. Keterampilan kerja ini merupakan bekal yang selayaknya dimiliki seseorang agar dapat hidup berguna dan mandiri secara ekonomi. Pada tulisan ini, penulis akan lebih fokus pada dua kecakapan hidup, yaitu Kecakapan Diri (personal skill) dan Kecakapan Sosial (social skill). http://tumbuh-kembang-anak.blogspot.com/

Hakekat Pendidikan Kecakapan Hidup (Life skill)

Pendidikan yang berorientasi pada pekerjaan, adalah upaya untuk membuat peserta didik menjadi terampil yang ujung-ujungnya diharapkan setelah lulus dapat memiliki kemampuan dan kecakapan dalam menghadapi dinamika kehidupan. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa peserta didik dapat memiliki kemampuan dan keberanian untuk menghadapi permasalahan kehidupan dan secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Pendidikan semacam itu biasa disebut sebagai pendidikan kecakapan hidup (life skill) dan didalamnya terdapat pula keterampilan vokasional.

Pembekalan keterampilan hanya sebagian kecil dari jenis pendidikan kecakapan hidup yang berguna untuk para lulusanya kelak dalam mencari kerja atau menciptakan pekerjaan. Dan oleh karena itu biasanya pendidikan kecakapan hidup yang lebih spesifik terkait dengan bidang pekerjaan tertentu, sesuai dengan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan, juga pada mata pelajarannya. Bersesuaian dengan kondisi dimana peserta didik berada, bekerja dan apapun profesinya.

Pendidikan kecakapan hidup yang spesifik sesuai dengan bidang pekerjaan (occupational) atau bidang kejuruan (vocational), membekali pada sisi kemampuan teknis atau pada sisi kompetensi teknis (technical competencies). Selain pada sisi technical competencies yang sangat bervariasi dalam bidang pekerjaan yang akan ditekuni, pendidikan kecakapan hidup juga mempersiapkan kecakapan yang bersifat umum seperti bersikap dan berlaku produktif (to be productive people), hal ini berarti dalam pendidikan kecakapan hidup (life skill) bersikap dan berperilaku produkti harus selalu dikembangkan, dan tidak dibatasi dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu tapi berlaku untuk semua bidang pekerjaan yang ditekuni.

Jadi dengan bekal yang diperoleh melalui pendidikan kecakapan hidup, baik dari sisi kompetensi dan sikap produktif ini, lulusannya dapat dikatakan sebagai ulusan yang memang siap kerja, yang dapat diserap industri maupun menciptakan peluang kerja.

Pendidikan persiapan kerja

Kompetensi menjadi kata kunci untuk setiap orang untuk dapat dipercaya memegang suatu pekerjaan, ditambah ketrampilan yang memadahi seseorang akan dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik. Pekerjaan atau mata pencaharian memang bisa beragam jenisnya mulai dari menjadi kuli bangunan sampai menjadi arsitek. Untuk mendapat pekerjaan itu, maka syaratnya dia harus juga memiliki keterampilan, oleh karena itu keterampilan ini menjadi syarat yang tidak bisa ditinggalkan untuk setiap pencari kerja atau siapapun yang ingin memiliki mata pencaharian.

Demikian pula kalau ingin berwiraswasta, keterampilan sangat diperlukan. Tanpa keterampilan yang cukup, mustahil seseorang bisa berwirausaha. Oleh karena itu banyak orang memburu pendidikan ketrampilan demi mewujudkan impiannya itu, entah segera mendapat pekerjaan atau membuka usaha sendiri. Kesiapan yang dilakukan bermacam-macam, ada yang melalui kursus keahlian teknik, managenen bisnis sampai kursus yang berbasis komputer dan penguasaan bahasa asing. Ada pula kursus menjahit, otomotif, salon, boga dan lain-lain.

Pendidikan untuk pendidikan dan Pendidikan untuk kerja

Pendidikan persiapan kerja yang mengarah terciptanya lulusan yang siap kerja bertumpu pada kebutuhan tenaga kerja menjadi solusi dari permasalahan lemahnya kompetensi yang dimilliki lulusan dunia pendidikan. Konsep pendidikan yang diterapkan selama ini berjalan dengan verbalistik dan berorientasi semata mata kepada menguasan mata pelajaran, bukan terkait dengan masalah sehari hari dan menggunakan materi pelajaran untuk memecahkan masalah masalah yang dihadapai dalam kehidupan. Seakan-akan menunjukan bahwa pendidikan untuk pendidikan atau pendidikan tidak terkait dengan kehidupan dan pemasalahan yang ada didalamnya. (http://alumnisaf.blogspot.com /2008/05/life-skill.html)

Sebagai upaya untuk menjawab kondisi pendidikan diatas, penerapan life skill yang memiliki tujuan untuk memungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik dalam menghadapi perannya di masa mendatang menjadi altrernatif solusi yang tepat untuk diberlakukan. Seperti disebutkan Slamet (2002), Life skill atau pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan kemampuan, kesanggupan dan keterampilan yang diperlukan seseorang untuk menjalankan hidup dengan nikmat dan bahagia, artinya tujuan life skill adalah untuk pemberdayaan, dengan harapan perserta didik mampu memecahkan permasalahan kehidupan termasuk mancari dan menciptakan lapangan pekerjaan (Depdiknas 2002), ditambahkan oleh Dosen Ekonomi Managemen FISE UNY, Nahiyah J Faraz M.Pd bahwa tujuan life skill memang mendidik kecakapan hidup dan membuat perserta didik mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya secara mandiri. (Ragam Terampil lewat “life skill”, tapi… http://kr.co.id, 11 mei 2008)

Dengan bekal pendidikan kecakapan hidup (life skill) membawa dampak dan manfaat yang baik bagi lulusannya untuk menjadi warga yang produktif dan proaktif dalam memecahkan setiap permasalah kehidupan dan lebih-lebih menjadi pribadi pribadi yang tidak hanya bergantung pada pihak lain atau mandiri.


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Flowers and Decors. Powered by Blogger